Sabtu, 13 Agustus 2011

FUNGSI DAN PERAN GELOMBANG OTAK (BRAINWAVE) PADA MANUSIA


Menarik sekali membahas tentang gelombang otak dan kinerjanya. Gelombang otak ini dikenal sebagai brainwave. Brainwave pada manusia terdiri dari Betha, Alpha, Tetha dan Delta. Sering kita mendengar istilah brainwave atau yang akrab disebut dengan gelombang otak. Sejatinya otak merupakan kumpulan sel saraf yang mampu menghasilkan gelombang listrik yang berdinamisasi. Gelombang inilah yangdisebut dengan gelombang otak. Terdapat alat untuk mengukur gelombang listrik yang dihasilkan otak yaitu Electro Encephalograph (EEG). Gelombang otak tidak hanya menunjukkan kondisi pikiran dan tubuh seseorang, tetapi dapat juga distimulasi untuk mengubah kondisi mental seseorang. Dengan mengkondisikan otak agar memproduksi atau mereduksi jenis frekuensi gelombang otak tertentu, maka dimungkinkan untuk menghasilkan beragam kondisi mental dan emosional. Secara garis besar, otak manusia menghasilkan empat jenis gelombang otak secara bersamaan, yaitu beta, alpha, tetha, delta.
Gelombang Beta adalah kondisi pikiran ketika manusia berada dalam posisi aktif dan waspada. Gelombang ini bekerja pada situasi umum di mana manusia tengah menjalankan aktivitas normal dalam kehidupan sehari-hari. Frekuensi pikiran pada wilayah gelombang ini berada pada kisaran 14-24 Cps (diukur dengan perangkat EEG).
Gelombang Alpha adalah kondisi pikiran ketika manusia tengah berkonsentrasi dan terfokus kepada satu tujuan atau sasaran saja. Contohnya adalah bila manusia sedang membaca, main game, menonton televisi, membetulkan barang yang rusak, atau justru dalam situasi di mana seseorang itu sedang melakukan relaksasi, melamun, atau bahkan santai dan tidak melakukan apapun. Frekuensi pikiran pada wilayah gelombang ini berada pada kisaran 7-14 Cps.
Gelombang Theta adalah kondisi pikiran dalam suasana relaksasi yang sangat ekstrim. Dalam kondisi pada gelombang ini, seseorang bisa merasa bahwa dirinya seolah-olah sedang tertidur. Kondisi macam ini juga terjadi bilamana seseorang sedang melaksanakan aktivitas meditasi yang sangat dalam. Gelombang Theta juga dikenal dengan aktivitas Rapid Eye Movement (REM), di mana seseorang dianggap telah tertidur, dengan mata tertutup, namun sesungguhnya bola matanya bergerak cepat ke sana-kemari. Pada gelombang Theta inilah mimpi-mimpi muncul. Frekuensi pikiran pada wilayah gelombang ini berada pada kisaran 3,5-7 Cps.
Gelombang Delta adalah situasi di mana seseorang telah jatuh tertidur dalam kondisi lelap, nyenyak. Pada kondisi ini, tidak ada mimpi. Kondisi macam ini juga dialami oleh mereka yang jatuh pingsan atau koma dengan skala yang ‘parah’. Frekuensi pikiran pada wilayah gelombang ini berada pada kisaran 0,5-3,5 Cps.
Perpindahan area gelombang di atas tidak bisa terjadi secara perlahan tapi tentunya dengan dengan bertahap – tahap. Berbeda katika seseorang memaksa dirinya untuk tidur maka akan terjadi perpindahan gelombang dari alpha, betha, tetha, hingga delta. Kondisi ini memungkinkan seseorang masih tetap berada di wilayah tetha dan mengalami mimpi. Mengapa bisa terjadi mimpi dikarenakan alam bawah sadar bekerja dengan sangat baik berlawanan dengan alam sadarnya yang sama sekali tidak bekerja. Jadi orang dalam keadaan ini mereka merasa bahwa dirinya telah tertidur karena mereka tidak mampu untuk menangkap bunyi dan tidak mampu melihat objek secara langsung. Akibat kerja alam bawah sadar inilah yang menimbulkan terjadinya mimpi. Saat tertidur dan berada pada wilayah tetha maka mimpi yang dialami akan menyesuaikan dengan kondisi hati si pemimpi. Tentu seolah – olah jika mimpinya negatif maka orang akan berpikir bahwa akan terjadi kejadian buruk dalam hidup mereka. Inilah yang kadang menyebabkan banyak manusia phobia terhadap mimpi. Sementara mimpi merupakan bunga tidur. Tapi kadang justru banyak manusia yang mendramatisir keadaan dengan menjadikan mimpi sebagai acuan atas segala peristiwa yang diyakini telah dialami atau akan dialaminya di masa depan.
Untuk memancing brainwave agar otak berada pada gelombang Alpha, saat ini telah dikembangkan Teknologi DIGITAL PRAYER berupa suara-suara tertentu yang jika didengar akan memancing dan mengarahkan otak pada gelombang idela yaitu Alpha.
DIGITAL PRAYER dalam bentuk file MP3 dapat didownload di bagian samping Blog ini. atau DOWNLOAD DI SINI
Pemakaian HEADSET sangat dianjurkan untuk memperoleh hasil yang maksimal.
SELAMAT MENCOBA....!!! dan nikmatilah sensasi baru gelombang Alpha pada otak kita.
                        
                                                                                                                  """kang_rony"""

Rabu, 13 April 2011

Rasionalisasi Agama (bag. 2)

“Tsamarotul aqli luzuumul haqqi”; Hasil (mengikuti) akal adalah komitmen pada kebenaran. (Ali bin Abi Thalib as)
“Science without religion is lame, raligion without science is blind”; Ilmu pengetahuan tanpa agama niscaya lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta. (Albert Einstein)
Salah satu isu penting dalam diskursus Filsafat Agama adalah relasi agama dan rasio. Jika kita mengurut kronologi isu ini, akan kita dapati betapa peliknya para rohaniawan Kristen pada Abad Pertengahan dalam mempertahankan dogma-dogma agama yang banyak tidak sesuai dengan interpretasi akal dan ilmu pengetahuan[1]. Sehingga dari situ, muncullah beberapa pemikiran para intelektual yang ingin mengkritisi dogma-dogma tersebut, ataupun usaha-usaha meng-islah-kan ajaran agama dengan rasio. Tersusunlah apa yang disebut dengan “Teologi Baru” (new theology) sebagai satu usaha dalam rangka niatan tersebut.
Isu relasi agama dan rasio pada akhirnya menyebabkan seorang kristian, Fulton J. Sheen, dalam karyanya “God and intelligence in Modern Philosophy”, mengatakan: “Pengingkaran terhadap akal adalah pengingkaran terhadap Tuhan yang kesempurnaan-Nya tak terbatas, sebagaimana pengingkaran terhadap Tuhan yang kesempurnaan-Nya tak terbatas adalah pengingkaran terhadap akal; kedua hal tersebut tak mungkin terpisahkan”. Reaksi para teolog dan pemuka rohaniawan Kristen -dalam mempertahankan keyakinan mereka menghadapi tantangan tersebut- cukup beragam. Saat itu muncullah tiga bentuk reaksi[2]:
· Strong Rasionalism, yang meyakini bahwa rasio dan argumentasi pasti mampu menjelaskan segala ajaran agama secara benar. Willian K Clifford, Thomas Aquinas dan John Looke seringkali tampil sebagai tokoh-tokoh utama pemikiran ini.
· Fideism, yang meyakini bahwa ajaran agama adalah doktrin yang tidak bisa disentuh oleh rasio manusia. Hal itu mengingat ajaran agama berada di luar daya dan kapasitas rasio. Paul Tillich, Martin Luther dan Sir. Anselm termasuk yang meyakini hal tersebut.
· Critical Rasionalism, yang meyakini bahwa rasio mampu menjelaskan ajaran-ajaran agama, hanya saja kebenarannya tidak dapat ditetapkan secara pasti. Thomas Morris, George Mavrodes dan penulis buku itu sendiri cenderung kepada pendapat ketiga ini.
Dari sini kita tahu, bahwa dalam tradisi Kristen seakan argumen rasional lebih ditekankan dalam rangka pembelaan atas ajaran agama (apologetic). Dengan kata lain, rasio dipergunakan untuk mencari pembenaran, bukan untuk mencari kebenaran. Pada kalangan umat Islam pun sudah ada tantangan dalam upaya mengkompromikan agama dan rasio, yang terkadang digelindingkan oleh beberapa pemikir yang selalu kritis dalam memperlakukan teks-teks agama yang dianggap tidak sesuai dengan alam pikiran mereka.
Islam sebagai agama pamungkas dan syariat terakhir yang diturunkan oleh Allah swt, serta Al-Quran sebagai kitab suci terakhir dituntut mampu dalam menjawab semua tantangan yang ada. Adakah ajaran Islam selaras dengan apa yang diserukan oleh akal budi manusia? Apakah Islam dengan berbagai teks agama yang dimilikinya mampu menjawab semua tantangan rasionalitas pemikiran? Jika jawabannya negatif, niscaya Islam akan kehilangan predikatnya sebagai agama terakhir yang idealnya mampu menjawab tantangan segala zaman. Akan tetapi jika jawabannya positif, maka akan banyak sekali bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan tersebut sebagai konsekuensi dari jawaban positif tadi.
Dari sekian banyak pertanyaan yang muncul dari isu tersebut ialah; apakah yang dimaksud dengan rasio? Adakah rasio bisa menjadi tolok ukur kebenaran ajaran agama? Bagaimana Islam menerima argumentasi rasional? Adakah ia sebatas sebagai apologetic sebagaimana yang digunakan dalam tradisi Kristen, atau memang sudah menjadi keseutuhan Islam? Sampai batas manakah rasio bisa menjadi dalil kebenaran? Bagaimanakah rasio manusia yang relatif ini bisa menjadi tolok ukur kebenaran? Bagaimana metode islah dan penyelarasan antara rasio dan agama? Bagaimana jika ternyata ketimpangan antara rasio dan teks agama? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dari isu itu.
Kita di sini akan mencoba menjawab secara ringkas pertanyaan-pertanyaan yang menjadi dasar pemikiran Rasionalitas Agama. Sebelum kita masuk pada intinya, terlebih dahulu kita telaah secara singkat beberapa hal di bawah ini yang sekaligus sebagai prolog pembahasan kita kali ini:
Pertama, dalam kehidupan kita sehari-hari bisa dipastikan, bahwa apapun yang biasa dicerna oleh pikiran kita –lepas dari benar salahnya hal-hal tersebut- tidak akan keluar
dari tiga kemungkinan berikut ini:
1. Rasional; segala sesuatu yang sesuai dengan realita –dengan arti umum- dan sesuai dengan prinsip-prinsip logika manusia sehat.[3]
2. Irasional; segala sesuatu yang tidak sesuai dengan realita dan tidak sesuai pula dengan prinsip-prinsip logika manusia sehat.
3. Supra-rasional; segala sesuatu yang sesuai dengan realita akan tetapi penerapan logika manusia dalam menetapkannya masih belum didapat. Dengan kata lain bahwa hal tersebut bukan berarti masuk kategori tidak masuk akal (irrasional) akan tetapi dikarenakan keterbatasan akal maka ia belum mampu –atau bahkan tidak mampu karena hal-hal yang akan kita jelaskan nanti- untuk menjangkaunya secara argumentatif dan tidak menutup kemungkinan suatu saat kelak akal mampu menganalisanya dengan argumen yang logis sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ilmu logika.
Kedua, sudah menjadi kesepakatan semua kelompok kaum muslimin bahwa ajaran syariat Islam[4] bertumpu pada dua[5] pilar:

Rabu, 06 April 2011

Rasionalisasi Agama (bag. 1)

 Benarkah Rasionalisasi Agama akan berujung pada sekularisasi dan desakralisasi..? Pertanyaan klasik yang terus saja mengusik pemikiran para pemikir dan mengundang pro kontra tiada berujung.
Iseng-iseng, saya coba browsing tentang hal itu dengan sowan kpada Mbah Google. hasilnya....??? di urutan teratas tertera THE LOST SYMBOL karya DAN BROWN. Agak membingungkan memang karena dia berbicara agak fokus pada agamanya sendiri, meski beberapa agama dia sebut secara sekilas. Tapi paling tidak satu kesimpulan besar didapatkan, yaitu bahwa semua agama besar mengajaran kearifan sosial, berusaha mengeksplorasi potensi manusia sehingga manusia mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan dalam hidupnya.
Lebih lengkapnya klik di http://www.thelostsymbol.com.

Moga bermanfaat........

Sabtu, 02 April 2011

Sekelumit Kisah Islam Liberal

Islam Liberal, awalnya adalah hanya sebuah wacana, kini menukik menjadi fenomena. Menantang, dan membuat gundah.
Berikut uraian Goenawan Mohamad yang dipaparkan dalam gaya bertutur dalam ENGLISH VERSION yang kami kutip dari website beliau. Selamat membaca dan merenung...........



Let me begin with the story of a young man who got hit, and killed, by a passing motorbike, and left 17 books of dairies in his rented room. His name is Ahmad Wahib. He died in a Jakarta street in 1973.
He was a Tempo new recruit. As the editor of the magazine, I was among those who arranged his funeral, etc. When we went to his place, to collect and take care of the meagre belongings he left behind, we found the thick diary-books, neatly packed on his table – as if Wahib had prepared a consoling gift for us, in the wake of the tragedy. As things go, it was truly a gift, and not only for his friends. His private notes, all written in long hand, were not just another record of a private life.