Selasa, 22 Maret 2011

KUA. Riwayatmu Kini

Sebagai salah satu institusi pemerintah yang salngsung bersentuhan dengan masyarakat, KUA telah mengalami perjalanan panjang, sepanjang perjalanan Kementerian Agama dari waktu ke waktu.
Pada awalnya, Kementerian Agama (waktu itu : Departemen Agama) merupakan satu-satunya institusi pemerintah yang dipercaya mengemban satu amanat berat yakni " Membidangi Sektor Keagamaan. Hal ini tidak mudah karena mau tidak mau Depag harus mampu mengawinkan dua sisi yang (konon menurut tasawwuf) sangat bertentangan, yakni birokrasi di satu sisi dan agama di sisi lain.
Namun kepiawaian insanDepag waktu itu mampu membuat Depag memvisualisasikan diri sebagai birokrasi yang agamis. Begitu kentalnya nuansa keagamaan di Depag (dan KUA tentunya) saat itu hingga muncul istilah untuk kepala KUA menjadi KYAI PENGHULU. Insan KUA adalah sosok yang mampu tampil sebagai seorang birokrat sejati sekaligus tokoh panutan masyarakat. Bahkan di lintas birokrasi pun, Depag dijadikan konsultan keagamaan dan mendapat posisi penting.
Seiring perjalan waktu, fenomena dan value Depag ini ternyata bergeser. Entah salah siapa, saat ini Kementerian Agama menjadi institusi yang serba NANGGUNG, dengan kawalan insan Kemenag yang juga serba NANGGUNG, kemampuan agama yang pas-pasan bahkan cenderung kedodoran membuat Kemenag kehilangan tempat di hati masyarakat.
Yang pertama merasakan salah tingkah akibat hal ini tentu saja KUA yang selalu berinteraksi dengan masyarakat. Kemampuan manajerial yang meragukan, performan yang cenderung kolot, tidak profesional, ditambah dengan Gaptek-nya, membuat KUA menjadi institusi yang (maaf) kadang kurang dihormati.
Sekedar berbagi pengalaman, penulis bahkan pernah (terpaksa) dengan arogan menantang  adu kemampuan IT seorang pemuda yang jelas-jelas meremehkan KUA di bidang teknologi insformasi. Dan alhamdulillah, pemuda itu keder.
Kejadian ini terus menjadi bahan evaluasi bagi diri penulis sebagai insan KUA yang harus bangga menjadi pegawai Kemenag yang ditugaskan di KUA.
Bukankah seharusnya dengan embel-embel AGAMA para insan depag harus menjadi sosok yang lebih perfect dan expert dibandingkan PNS lain?
Bukankah seharusnya IQ, EQ, dan SQ kita sudah mumpuni dengan kemampuan di bidang keagamaan yang kita miliki?
Dan..... bukankah seharusnya kita mengambil pelajaran dari semua ini...???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar